Targetjurnalis Batam, Sejak dini hari, wujudnya kurang perhatian oleh petugas keimigrasian Batam, provinsi kepulauan Riau, yakni, memberikan pelayanan kurang optimal bagi para pelancong atau masyarakat yang ingin bepergian ke luar negeri, yaitu dengan melakukan penolakan secara sepihak yang di lakukan oleh oknum petugas keimigrasian Batam.
Hal tersebut sudah sering di alami oleh seorang pelancong yang ingin bepergian keluar negeri , ia beberapa kali berusaha untuk menyebrang ke Malaysia karena ada karena berbagai urusan, namun para petugas keimigrasian Batam telah menolaknya hingga beberapa kali dengan tidak memberikan penjelasan sehingga membuat beberapa calon pelancong kebingungan.
Tiada notis yang bisa membuat para pelancong bisa memahami penerapan pelayanan oleh petugas keimigrasian Batam. Namun setelah di selidiki lebih lanjut rupanya adanya faktor unsur Pungutan liar (pungli) yang membuat para pelancong tersendat untuk menyebrang ke luar negeri.
Menurut pengakuan salah satu pelancong yang sekaligus anggota dari salah satu media ternama yakni, Johari (nama samaran), 45 (tahun) asal Sumenep Jawa Timur. ia dan rakan ingin memasuki Malaysia atas urusan keluarga, dan tentunya sudah mengantongi beberapa dokumen resmi yakni paspor dan Tiket Ferry dan kelengkapan lainnya, sebagai kelengkapan pada otoritas negara lain.
Setelah sampai di ruang tunggu kantor imigrasi, ia di masukkan ke kamar kecil untuk di interogasi oleh oknum pihak keimigrasian dengan menyanggah beberapa dokumen resmi yang di bawah, sambil menyelipkan uang Rp 300.000 sebagai pelicin agar perjalanan di muluskan.
Namun oknum pihak imigrasi menolak karena uang tersebut tidak di tambah menjadi Rp 500.000. Johari memberikan alasan untuk menghemat biaya dan bekal selama di luar negeri, dan ia menambahkan alasan karena sudah beberapa hari tinggal di batam yang mana biaya hidup di Batam lebih tinggi berbanding dengan daerah lain.
Karena kesal beberapa kali tidak di izinkan akhirnya mengungkapkan kekecewaanya pada salah satu media yang juga merupakan korelasinya, kepada media, Johari mengungkapkan.” Apa yang menjadi kekesalan saya dan rakan terhadap oknum pihak imigrasi Batam, ketika ingin menyebrang ke luar negeri dirinya di persulit hanya karena uang dua ratus ribu. Selain itu tidak memberikan penjelasan secara utuh tentang penolakan para pelancong.”pungkasnya.
Ia hanya berharap, agar pihak keimigrasian Batam membenahi pelayanan dan tiada praktek apapun yang bisa menyulitkan apalagi merugikan masyarakat.
Apa yang menjadi persoalan di keimigrasian Batam ialah, tiada upaya untuk meningkatkan kwalitas pelayanan yakni tata kelola yang baik dan benar untuk kenyamanan masyarakat.
Red editor bluee korwil Sumsel

